Khutbah Idhul Adha 1436 H
السلم عليكم ورحمة الله وبركا ته
الله اكبر x)9( الله اكبر كبيرا والحمد الله كثيرا وسبحان الله بكرة واصيلا الحمد
لله الذي فرض الحج على عباده الى بيته الحرم.اشهد ان لااله الا الله وحده لا شريك
اله. واشهد ان محمدا عبده ورسوله. اللهم صل وسلم وبارك على سيدنا محمد وعلى اله
وصحبه اجمعين.اما بعد. فيا ايها المسلمون اكرم اوصيكم واياي بتقوى الله وطاعته
لعلكم تفلحون. فقد قال تعالى اعوذ بالله من الشيطان الرجيم. بسم الله الرحمن
الرحيم.
!$¯RÎ) š»oYø‹sÜôãr& trOöqs3ø9$# ÇÊÈ Èe@|Ásù y7În/tÏ9 öptùU$#ur ÇËÈ žcÎ) št¥ÏR$x© uqèd çŽtIö/F{$# ÇÌÈ
Kita patut bersyukur
kepada Allah Rabbul Alamin, yang dengan kasih sayang-Nya berkenan menjaga
keimanan dan ke-Islaman kita, sehingga kita tetap menjadi pemeluk Islam, dan
dapat menjalankan ibadah shalat Idul Adha 1436 H pada hari ini.
Tanpa penjagaan dari Allah
Malikurrahman, bukan mustahil sewaktu-waktu iman dan Islam kita berubah
sehingga kita menjadi orang munafik, karena tidak konsisten dengan aqidah dan
syariah yang Allah perintahkan untuk dilaksanakan. Boleh jadi juga kita berubah
jadi orang musyrik, karena ridha bertuhan pada selain Allah, menyembah thaghut,
dan memuja patung ataupun berhala. Mungkin saja kita berubah jadi orang kafir,
karena mengingkari semua aqidah dan syariah Islam. Atau bisa juga menjadi orang
liberal karena menganggap semua agama sama. Kita berlindung kepada Allah agar
tidak termasuk dalam kemungkinan buruk yang kita sebutkan tadi.
Shalawat dan salam semoga
dilimpahkan Allah kepada junjungan kita Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi
wasallam, keluarganya, para shahabatnya, para tabi’in dan tabi’ut tabi’in,
serta siapa saja yang mengikuti petunjuk beliau hingga yaumul qiyamah.
Kita ridha Islam sebagai
agama dan Nabi Muhammad sebagai Rasul-Nya. Maka marilah kita bertaqwa agar kita
menjadi makhluk yang paling mulia di sisi Allah, diampuni dosa-dosa kita, dan
diberi-Nya jalan keluar terhadap problem kehidupan yang kita hadapi.
Allah berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللهِ
وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا , يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ
ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا
“Wahai orang-orang
beriman, taatlah kepada Allah dan berkatalah dengan perkataan yang benar.
Dengan begitu, niscaya semua yang kalian lakukan hasilnya akan menjadi baik dan
dosa-dosa kalian akan diampuni Allah. Siapa saja yang taat kepada Allah dan
Rasul-Nya, sungguh dia memperoleh kemenangan yang sangat besar.” (Qs. Al-Ahzab,
33: 70-71)
Ma’asyiral Muslimin
Rahimakumullah
الله أكبر ، الله أكبر ، الله أكبر ، ولله الحمد …
Setiap kali umat Islam
merayakan Idul Adha, kita merasakan kegembiraan yang lahir dari pantulan cahaya
tauhid, cahaya iman, dan ketaatan kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Kaum
muslimin mewujudkan keimanan mereka dengan menunaikan rukun Islam ke lima,
ibadah haji ke Baitullah, dan melaksanakan shalat Idul Adha, kemudian
dilanjutkan dengan penyembelihan hewan qurban untuk melestarikan sunah Nabi
Ibrahim ‘alaihissalam.
Idul Adha yang kita
rayakan pada setiap tanggal 10 Dzulhijjah dikenal juga dengan sebuatan “Hari
Raya Haji”, karena terkait dengan kaum muslimin yang sedang menunaikan ibadah
haji, yaitu rukun Islam yang kelima.
Ibadah haji merupakan
karunia Ilahy, namun tidak semua orang bisa meraihnya, karena berbagai sebab.
Berapa banyak orang yang memiliki kecukupan harta, sehat fisik dan rohaninya,
namun ia tidak sungguh-sungguh berniat berangkat ke Baitullah al-Haram,
sehingga ia tidak dapat menyambut panggilan Allah itu. Sebaliknya, berapa
banyak orang yang berniat haji, ingin berangkat ke tanah suci Makkah, namun
tidak memiliki kemampuan harta atau sedang mengalami sakit yang menghalangi
mereka menunaikan rukun Islam kelima itu.
Di negeri kita, berapa
banyak orang-orang yang tergolongan ekonomi lemah, tetapi memiliki niat yang
kuat dan ikhlas untuk berhaji. Dengan karunia Ilahy mereka dapat menunaikan
ibadah haji ke Baitullah, dengan mengumpulkan dana bertahun-tahun dari hasil
jerih payahnya sebagai kuli bangunan, tukang becak, buruh gendong, loper koran
dan kerja berat lainnya.
Bagi orang beriman, ibadah
haji memiliki pesona dan daya tarik luar biasa, sehingga banyak orang yang
sudah berhaji berkali-kali, ingin mengulanginya lagi dan lagi. Maha Benar Allah
dengan firman-Nya:
وَأَذِّنْ فِي النَّاسِ بِالْحَجِّ يَأْتُوكَ رِجَالًا
وَعَلَى كُلِّ ضَامِرٍ يَأْتِينَ مِنْ كُلِّ فَجٍّ عَمِيقٍ
“Wahai Ibrahim, umumkanlah
kepada semua manusia untuk beribadah haji, niscaya mereka akan datang memenuhi
seruanmu dengan berjalan kaki dan mengendarai onta yang cekatan dari tempat-tempat
yang jauh.” (Qs. Al-Hajj [22]: 27)
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah
الله أكبر ، الله أكبر ، الله أكبر ، ولله الحمد …
Seruan untuk menunaikan
ibadah haji dan menyembelih hewan qurban, yang dikumandangkan oleh Nabi Ibrahim
telah berlangsung berabad-abad lamanya, dan disambut oleh berjuta-juta umat
Islam di seluruh penjuru dunia.
Setiap tahun berjuta-juta
umat Islam memadati kota Makah, tempat Ka’bah/Masjidil Haram berada. Pada 9
Dzulhijjah kemarin, hampir 3 juta umat Islam berkumpul, wukuf di padang Arafah,
sembari mengumandangkan takbir dan tahmid, memuji kebesaran dan kemuliaan Allah
Swt.
Selain rasa bahagia karena
dapat menunaikan rukun Islam yang ke lima, pastilah saudara-saudara kita, para
jamaah haji yang datang dari seluruh penjuru dunia ini amat berduka, mengingat
musibah jatuhnya crane (mesin derek) di lantai tiga Masjidil Haram,
dekat pintu As-Salam. Tak seorangpun mengira terjadinya peristiwa kecelakaan
yang menewaskan sebanyak 107 jemaah dan 238 orang lainnya menderita luka-luka.
Sebanyak 10 orang dari 107 korban meninggal berasal dari Indonesia.
Musibah ini terjadi pada
hari Jum’at, 11 September 2015, pk. 17.35 menjelang waktu Maghrib tiba, diawali
dengan badai disertai hujan es. Saat ribuan dari jutaan Muslim dari berbagai
penjuru dunia berkumpul untuk menjalankan ibadah haji. Masjidil Haram biasanya
mengalami puncak kepadatan pada Jumat saat Umat Muslim biasa Salat Jumat.
Sebagian besar korban tertimpa crane saat melaksanakan thawaf. Di antara
mereka ada yang meninggal ketika sedang berdzikir, ada pula yang baru selesai
thawaf, sedangkan sebagian yang lain sedang bermunajat kepada Rabbul Alamin.
Dari musibah ini, terdapat
beberapa keutamaan jamaah haji yang menjadi korban tertimpa crane di
Masjidil Haram. Dan hanya Allah yang mengetahui hikmah di balik musibah ini.
Sebagai pelajaran, hikmah dari peristiwa sebagaimana tersebut dalam sabda Nabi
saw antara lain:
1. Meninggal di hari Jumat dilindungi Allah dari adzab
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو قَالَ قَالَ رَسُولُ
اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَمُوتُ يَوْمَ
الْجُمُعَةِ أَوْ لَيْلَةَ الْجُمُعَةِ إِلَّا وَقَاهُ اللَّهُ فِتْنَةَ الْقَبْرِ
Artinya: “Dari Abdullah
bin ‘Amr radhiyallahu anhuma, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi
wasallam bersabda: “Tidaklah seorang muslim meninggal dunia pada hari Jumat
atau pada malam Jumat melainkan Allah akan melindunginya dari fitnah
(pertanyaan) kubur.” (HR. At-Tirmidzi, Ahmad, Humaid, Abu Ya’la, dan
Al-Baihaqi).
2.
Syahid bagi yang
meninggal tertimpa reruntuhan. Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda:
الشُّهَدَاءُ خَمْسَةٌ: الْمَطْعُوْنُ وَالْمَبْطُوْنُ
وَالْغَرِقُ وَصاَحِبُ الْهَدْمِ وَالشَّهِيْدُ فِي سَبِيْلِ اللهِ
“Syuhada itu ada lima,
yaitu orang yang meninggal karena penyakit tha’un, orang yang meninggal karena
penyakit perut, orang yang mati tenggelam, orang yang meninggal karena tertimpa
reruntuhan, dan orang yang gugur di jalan Allah.”
(HR. Al-Bukhari dan Muslim dari hadits Abu Hurairah).
3.Meninggal
di jalan Allah, yaitu sedang atau akan beribadah haji.
Abu Hurairah radhiyallahu
anhu menyampaikan sabda Rasulullah shalallahu alaihi wasallam :
مَا تَعُدُّوْنَ الشَّهِيْدَ فِيْكُمْ؟ قَالُوْا: يَا
رَسُوْلَ اللهِ، مَنْ قُتِلَ فِي سَبِيْلِ اللهِ فَهُوَ شَهِيْدٌ. قَالَ: إِنَّ
شُهَدَاءَ أُمَّتِي إِذًا لَقَلِيْلٌ. قَالُوْا: فَمَنْ هُمْ يَا رَسُوْلَ اللهِ؟
قَالَ: مَنْ قُتِلَ فِي سَبِيْلِ اللهِ فَهُوَ شَهِيْدٌ, وَمَنْ مَاتَ فِي
سَبِيْلِ اللهِ فَهُوَ شَهِيْدٌ، وَمَنْ مَاتَ فيِ الطَّاعُوْنَ فَهُوَ شَهِيْدٌ،
وَمَنْ مَاتَ فِي الْبَطْنِ فَهُوَ شَهِيْدٌ، وَالْغَرِيْقُ شَهِيْدٌ
“Siapakah yang terhitung
syahid menurut anggapan kalian?” Mereka menjawab, “Wahai
Rasulullah, siapa yang terbunuh di jalan Allah maka ia syahid.” Beliau
menjawab, “Kalau begitu, syuhada dari kalangan umatku hanya sedikit.”
“Bila demikian, siapakah mereka yang dikatakan mati syahid, wahai Rasulullah?”
tanya para sahabat. Beliau menjawab, “Siapa yang terbunuh di jalan Allah
maka ia syahid, siapa yang meninggal di jalan Allah maka ia syahid, siapa yang
meninggal karena penyakit tha’un maka ia syahid, siapa yang meninggal karena
penyakit perut maka ia syahid, dan siapa yang tenggelam ia syahid.” (HR.
Muslim)
4.Meninggal
ketika sedang beramal shalih.
Hudzaifah radhiyallahu
anhu menyampaikan sabda Rasulullah shalallahu alaihi wasallam:
مَنْ قَالَ: لاَ إِلهَ إِلاَّ الله ابْتِغَاءَ وَجْهِ
اللهِ خُتِمَ لَهُ بِهَا دَخَلَ الْجَنَّةَ. وَمَنْ صَامَ يَوْمًا ابْتِغَاءَ
وَجْهِ اللهِ خُتِمَ لَهُ بِهَا دَخَلَ الْجَنَّةَ. وَمَنْ تَصَدَّقَ بِصَدَقَةٍ
ابْتِغَاءَ وَجْهِ اللهِ خُتِمَ لَهُ بِهَا دَخَلَ الْجَنَّةَ
“Siapa yang mengucapkan La
ilaaha illallah karena mengharapkan wajah Allah yang ia mengakhiri hidupnya
dengan amal tersebut maka ia masuk surga. Siapa yang berpuasa sehari karena
mengharapkan wajah Allah yang ia mengakhiri hidupnya dengan amal tersebut maka
ia masuk surga. Siapa yang bersedekah dengan satu sedekah karena mengharapkan
wajah Allah yang ia mengakhiri hidupnya dengan amal tersebut maka ia masuk
surga.” (HR. Ahmad, sanadnya shahih).
Maka atas musibah yang
menimpa, kita mohon semoga Allah berkenan menerima amalan para korban jatuhnya
crane di Masjidil Haram, dan menjadikan mereka sebagai syuhada.
Kita memohon kepada Allah
agar merahmati dan mengampuni mereka, serta memberikan kesabaran dan ketenangan
kepada sanak keluarga yang mereka tinggalkan.
Ma’asyiral Muslimin
Rahimakumullah
الله أكبر ، الله أكبر ، الله أكبر ، ولله الحمد …
Idul Adha, selain
dinamakan hari raya haji, juga dinamakan “Idul Nahr,” artinya hari raya
penyembelihan (Hari raya Qurban). Hal ini untuk memperingati ujian paling berat
yang menimpa Nabi Ibrahim. Kesabaran dan ketabahan Ibrahim dalam menghadapi berbagai
ujian dan cobaan, menyebabkan dia dianugerahi kehormatan sebagai “Khalilullah”
(kekasih Allah).
Setelah gelar Al-khalil
disandangnya, Malaikat bertanya kepada Allah: “Ya Tuhanku, mengapa Engkau
menjadikan Ibrahim sebagai kekasih-Mu. Padahal ia disibukkan oleh urusan
kekayaan dan keluarganya?” Allah berfirman: “Jangan menilai hamba-Ku Ibrahim
ini dengan ukuran lahiriyah, tengoklah isi hati dan amal baktinya!”
Karena itu, Allah SWT
mengizinkan para malaikat menguji keimanan serta ketaqwaan Nabi Ibrahim.
Ternyata, kekayaan dan keluarganya tidak melalaikannya dalam menaati Allah.
Dalam kitab “Misykatul
Anwar” disebutkan bahwa Nabi Ibrahim memiliki kekayaan 1000 ekor domba, 300
lembu, dan 100 ekor unta. Riwayat lain mengatakan, kekayaan Nabi Ibrahim mencapai
12.000 ekor ternak. Suatu jumlah yang menurut orang di zamannya adalah
tergolong milliuner.
Ketika suatu hari, Ibrahim
ditanya seseorang, “milik siapakah ternak sebanyak ini?” Maka dijawabnya:
“Kepunyaan Allah, tapi kini masih milikku. Sewaktu-waktu bila Allah
menghendaki, aku serahkan semuanya. Jangankan ternak, bila Allah meminta anak
kesayanganku Ismail, niscaya akan aku serahkan juga.”
Menurut mufassir Ibnu
Katsir dalam tafsir Al-Qur’anul ‘Adzim mengemukakan bahwa, pernyataan Nabi
Ibrahim yang akan mengorbankan anaknya jika dikehendaki Allah itulah yang
kemudian dijadikan bahan ujian, yaitu Allah menguji iman dan taqwa Nabi Ibrahim
melalui mimpinya yang haq, agar ia mengorbankan putranya yang kala itu masih
berusia 7 tahun. Anak yang elok rupawan, sehat lagi cekatan ini, supaya
dikorbankan dan disembelih dengan menggunakan tangannya sendiri.
Peristiwa spektakuler itu
dinyatakan dalam Al-Qur’an:
قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَى فِي الْمَنَامِ أَنِّي
أَذْبَحُكَ فَانظُرْ مَاذَا تَرَى قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ
سَتَجِدُنِي إِن شَاء اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ
“Tatkala anak itu sudah
dewasa, Ibrahim berkata kepada anaknya: “Wahai anakku, sungguh aku telah
bermimpi menyembelih kamu. Karena itu, apa pendapatmu tentang mimpiku itu?”
Ismail berkata: “Wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan kepadamu.
Insya Allah, engkau akan mendapati aku termasuk orang yang sabar.”
(Qs. As-shaffat [37]: 102)
Ketika sang ayah belum
juga mengayunkan pisau di leher putranya, Ismail mengira ayahnya ragu, atau
tidak sampai hati menyembelih anaknya. Maka seraya melepaskan tali pengikat
tangannya,Ismail membaringkan diri, lalu meminta ayahnya segera mengayunkan
pisau sambil berpaling, supaya tidak melihat wajahnya.
Nabi Ibrahim memantapkan
niatnya. Nabi Ismail memasrahkan diri pada Ilahy. Sedetik setelah pisau nyaris
digerakkan, tiba-tiba Allah berseru dengan firman-Nya, menyuruh menghentikan
dan tidak meneruskan untuk menyembelih anaknya.
Sebagai imbalan keikhlasan
mereka, Allah mencukupkan dengan penyembelihan seekor kambing sebagai korban,
sebagaimana diterangkan dalam Al-Qur’an:
“Kami ganti Ismail dengan
seekor domba yang sangat besar. Kami telah jadikan Ibrahim sebagai contoh bagi
generasi-generasi sesudahnya. Ucapan ‘salam sejahtera’ bagi Ibrahim.
Demikianlah Kami memberi pahala kepada orang-orang yang beramal shalih.”
(Qs. As-Saffat [37]:107-110).
Jauh sebelum Ismail lahir,
Nabi Ibrahim As selalu berdo’a agar mendapat keturunan yang shalih:
رَبِّ هَبْ لِي مِنَ الصَّالِحِينَ
Ibrahim berdo’a: “Wahai
Tuhanku, karuniakanlah anak yang shalih kepadaku.” (Qs. As-Shaffat [37]:100).
Namun, ketika baru saja
puteranya beranjak dewasa, tiba-tiba diuji oleh Allah untuk menyembelih
anaknya, sungguh ujian luar biasa. Sehingga, menyaksikan adegan bapak dan
puteranya, yang menunjukkan kesabaran, keikhlasan dan tawakkal, untuk menaati
perintah Allah, Malaikat Jibril pun terkagum-kagum, seraya terlontar darinya
ucapan”Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar.” Nabi Ibrahim menjawab
“Lailaha illallah Allahu Akbar.” Kemudian disambung oleh Nabi Ismail “Allahu
Akbar Walillahil Hamdu.’
Ma’asyiral Muslimin
Rahimakumullah
الله أكبر ، الله أكبر ، الله أكبر ، ولله الحمد …
Peristiwa bersejarah ini
memberi pelajaran bagi setiap Muslim, bahwa anak yang shalih dan shalihah hanya
dapat lahir dari keturunan dan lingkungan keluarga yang shalih juga. Laksana
pepatah, “daun jatuh tidak akan jauh dari pohonnya.”
Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda:
إِنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ لَيَرْفَعُ ذُرِّيَّةَ
الْمُؤْمِنِ إِلَيْهِ فِي دَرَجَتِهِ ، وَإِنْ كَانُوا دُونَهُ فِي الْعَمَلِ ،
لِيَقَرَّ عَنْهُمْ عَيْنَهُ . قَالَ : ثُمَّ قَرَأَ : [ وَالَّذِينَ آمَنُوا
وَاتَّبَعَتْهُمْ ذُرِّيَّتُهُمْ بِإِيمَانٍ أَلْحَقْنَا بِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ
وَمَا أَلَتْنَاهُمْ مِنْ عَمَلِهِمْ مِنْشَيْءٍ كُلُّ امْرِئٍ بِمَا كَسَبَ
رَهِينٌ (21) ] [الطور : 21] . مَا نَقَصْنَا الآبَاءَ مِمَّا أَعْطَيْنَا
الْبَنِينَ .
“Sesungguhnya Allah
mengangkat derajat anak-anak orang-orang mukmin ke derajat orang tuanya,
walaupun amal shalih mereka tidak seperti amalan orang tuanya, agar orang tua
senang dan gembira berkumpul dengan anak-anaknya.” Kemudian
Rasulullah membacakan Al-Qur’an surat At-Thuur ayat 21:“Orang-orang mukmin
berada di dalam surga disusul anak keturunan mereka yang beriman. Kami
kumpulkan orang-orang mukmin bersama dengan anak keturunan mereka. Kami tidak
mengurangi sedikitpun pahala atas amal mereka. Setiap orang mendapatkan pahala
sesuai amal shalih yang ia lakukan di dunia.” (HR. Imam Al-Bazzaar)
Di zaman kita sekarang,
hanya sedikit orang-orang sukses yang melahirkan keturunan yang sukses pula.
Keshalihan Ismail, bukan diperoleh dari bangku kuliah di universitas, bukan
pula celupan dari adat istiadat serta budaya masyarakatnya; melainkan karena
ketaatannya pada ajaran agama.
Nabi Ibrahim telah memberi
pelajaran berharga pada kita, bahwa jika kita menginginkan anak-anak kita
menjadi anak yang shalih, maka orang tualah terlebih dahulu melakukan
keshalihan agar menjadi contoh bagi anak-anaknya. Hasil didikan ini akan
menjadi deposito orang tua untuk keberuntungannya di akhirat kelak
Dari Abu Hurairah
radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda:
إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلَّا
مِنْ ثَلَاثَةٍ : مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ ، وَعِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ ، وَوَلَدٍ
صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ
“Jika seseorang
meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara (yaitu):
sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, dan do’a anak yang shalih.” (HR.
Muslim no. 1631)
Hadits Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam ini mengajarkan pada kita, bahwa jika manusia meninggal
dunia, maka segala amalnya terputus, kecuali tiga perkara yang dapat
menyelamatkan dirinya, yaitu:
Pertama, shadaqah
jariyah, yaitu wakaf yang kita berikan selama hidup di dunia. Selain itu,
ada infaq, shadaqah yang kita keluarkan, sehingga dapat bermanfaat bagi orang
lain untuk beribadah dan menaati Allah Swt.
Kedua, ilmun
yuntafa’u bihi, yaitu ilmu yang bermanfaat yang diajarkan pada masyarakat,
dan tetap bermanfaat setelah meninggal.
Amirul Mukminin Ali bin
Abi Thalib berkata: “Ilmu akan menjaga kita, sedangkan harta sebaliknya,
kitalah yang harus menjaganya. semakin banyak ilmu seseorang semakin banyak
orang yang menyayangi dan menghormatinya. Sedangkan semakin banyak harta,
semakin banyak musuh dan orang yang iri kepadanya. Ilmu jika diamalkan akan
semakin bertambah, sedangkan harta jika digunakan akan semakin bekurang.
Pemilik ilmu akan diberi syafaat (pertolongan) di hari akhir kelak, sedangkan
pemilik harta akan dihisab, diusut asal muasal hartanya oleh Allah.”
Ketiga, waladun
shalih, yaitu anak yang shalih. Kita meninggalkan anak-anak yang shalih,
baik anak itu mendo’akan kita setiap saat atau tidak, tapi keshalihan anak itu
saja sudah menambah pahala yang terus menerus mengalir bagi orang tuanya hingga
yaumul qiyamah. Maka jangan biarkan anak-anak kita berkubang dalam kehidupan pergaulan
bebas, yang mengabaikan agama dan menuruti hawa nafsu belaka.
Pernah suatu ketika ada
seorang bapak yang mengeluh kepada Amirul Mukminin, Umar bin Khaththab ra
mengenai anaknya yang durhaka. Orang itu mengatakan bahwa putranya selalu
berkata kasar kepadanya dan sering kali memukulnya. Maka, Umar pun memanggil
anak itu dan memarahinya.
“Celaka engkau! Tidakkah
engkau tahu bahwa durhaka kepada orangtua adalah dosa besar yang mengundang
murka Allah? kata Umar.
“Tunggu dulu, wahai Amirul
Mukminin. Jangan tergesa-gesa mengadiliku. Jikalau memang seorang ayah memiliki
hak terhadap anaknya, bukankah si anak juga punya hak terhadap ayahnya?” tanya
si anak.
“Benar,” jawab Umar.
“Lantas, apakah hak anak
terhadap ayahnya?” lanjut si Anak.
“Ada tiga,” jawab Umar. “Pertama,
hendaklah ia memilih calon ibu yang baik untuk putranya, jangan sampai tercela
karena ibunya. Kedua, hendaklah ia menamainya dengan nama yang baik. Dan
ketiga, hendaklah ia mengajarinya al-Quran.”
Maka, si Anak mengatakan,
“Ketahuilah wahai Amirul Mukminin, sesungguhnya ayahku tidak pernah melakukan
satu pun dari tiga hal tersebut. Ia tidak memilih calon ibu yang baik bagiku.
Ibuku adalah hamba sahaya jelek berkulit hitam yang dibelinya dari pasar
seharga dua dirham, lalu malamnya ia gauli sehingga ia hamil mengandungku.
Setelah aku lahir pun ayah menamaiku Ju’al (si hitam bermuka jelek), dan ia
tidak pernah mengajariku menghafal al-Quran walau seayat.”
Maka Umar r.a. menoleh
kepada ayahnya dan berkata: “Engkau telah durhaka kepada anakmu sebelum ia
durhaka kepadamu. Pergilah engkau dari sini.”
Betapa pentingnya para
orang tua mengoptimalkan amal shalihnya agar memiliki keturunan yang baik,
hidup dengan rezki yang halal dan bersikap dermawan pada saudara muslim
lainnya. Terkait pemberian nama yang baik bagi anak-anak kita, mengingatkan
kita pada kejadian di negeri kita akhir-akhir ini. Ada orang tua yang memberi
nama Tuhan pada anaknya, ada juga yang bernama Saiton, nama-nama yang tidak
pantas.
Semoga kandungan khutbah
ini dapat memotivasi keluarga Muslim bersungguh-sungguh mendidik generasi
muslim yang cerdas otaknya, mulia akhlaknya, demi menyelamatkan negeri ini dari
musibah dan kerusakan yang lebih parah.
Ma’asyiral Muslimin
Rahimakumullah
الله أكبر ، الله أكبر ، الله أكبر ، ولله الحمد …
Mengakhiri khutbah ini,
marilah kita bermunajat kepada Allah agar diberi keselamatan dari segala
ancaman, diberi kebaikan yang paling sempurna, kehidupan yang sejahtera dan
waktu yang paling bahagia. Marilah kita berdo’a dengan meluruskan niat,
membersihkan hati dan menjernihkan fikiran, semoga Allah memperkenankan do’a
hamba-Nya yang ikhlas, dan menerima ibadah puasa Ramadhan kita.
Ya Allah pelihara iman
kami dan berikan kepada kami kesempatan merasakan manisnya iman dalam kehidupan
ini, yaitu dalam meneladani seluruh Sunnah Rasulullah saw. dengan
sebaik-baiknya, yang mengantarkan kami menuju keselamatan dunia dan akhirat.
Ya Allah bimbinglah kami
untuk mengendalikan dan menundukkan hawa nafsu kami. Peliharakan hati dan
pendengaran kami agar kami tidak terpedaya dari tipu daya syaithan yang merusak
amal ibadah yang telah dan akan kami lakukan.
اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ
وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اَلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ اِنَّكَ
سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعْوَاتِ
Ya Allah, ampunilah dosa
kaum Muslimin dan Muslimat, mu’minin dan mu’minat, baik yang masih hidup maupun
yang telah meninggal dunia. Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar, Dekat dan
Mengabulkan do’a.
رَبَّنَا اَتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى الأَخِرَةِ
حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
Ya Allah, anugerahkanlah
kepada kami kehidupan yang baik di dunia, dan kehidupan yang baik di akhirat
dan hindarkanlah kami dari azab neraka.
وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى
آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ . سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا
يَصِفُوْنَ . وَسَلاَمٌ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ . وَالْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ
الْعَالَمِيْنَ
Semoga shalawat senantiasa
tercurah kepada pemimpin kami Muhammad saw, keluarga dan sahabatnya semua. Maha
suci Tuhanmu Pemilik kemuliaan dari apa yang mereka persekutukan. Semoga salam
sejahtera selalu tercurah kepada para rasul dan segala puji hanya bagi Allah
Rabbul Alamin.
KHUTBAH KE DUA
الله اكبر(7x) الله اكبر كبيرا والحمد لله كثيرا وسبحا ن
الله بكرة واصيلا. اشهد ان لااله الا الله وحده لا شريك له. واشهد ان محمدا عبده
ورسوله. النبي الكريم وعلى اله وصحبه اجمعين مجاهدين الطا هرين و حسبن الله ونعم
الوكيل ولا حول ولا قوة الا بالله. اللهم
صل وسلم وبارك على سيدنا محمد عبده ورسوله. أما بعد. فيا عباد الله اوصيكم واياي
بتقوي الله من سماع اللغو. ان الله وملائكته يصلون على النبي يا ايها الذين امنو
صلوا عليه وسلموا تسليما كثيرا.
واضي اللهم عن الأربعة الخلفا ء الرا شدين. ابي بكر وعمر وعثما ن وعلى.
وعن التابع التابعين ومن تبعهم بإ حسان
الى يوم اللدين. اللهم اغفرلى وللمسلمين
والمسلمات والمؤمنين والمؤمنات
والأحياء منهم والأموات انك سميع قريب مجيب الدعوات. ربنا اتنا فى الدنيا حسنة وفى
الاخرة حسنة وقنا عذاب النار. عباد الله ان الله يأمر بالعدل والإحسان وايتاء ذى
القربى وينهى عن الفحشاء والمنكر والبغى يعظكم لعلكم تتذكرون. ولذكر الله اكبر
والله يعلم ما تصنعون.
Comments
Post a Comment